Jumat, 07 Oktober 2011

Berkebun



Senin adalah hari dengan rutinistas terpadat. Hari ini aku kuliah full dari jam 7-15.30. Pegal, capek, enek bersatu seperti permen nano-nano yang fantastis rasanya ! :D Buat refreshing, aku minta piggy nemanin mencari bibit bunga.

Akhir-akhir ini aku seperti ibu hamil yang ngidam bunga matahari. (cocok ga ya analoginya?) hmmm...lebih tepatnya seperti suami mabok janda? (lho? Lebih ngaco lagi..hahaha)

Berhubung piggy hanya punya satu helm, maka aku mencari helm dulu ke sekre BEM di PKM. Disana aku bertemu sidingin. Dan meminjam helm putihnya.

Motor piggy menuju arah sersan bajuri ke atas. Lebih tepatnya lagi didaerah cihideung. Disina memang terkenal menjual bibit bunga lengkap beraneka ragam dan jenis. Mulai dari anak bunga sampe nenek moyang bunga yang jompo dan renta hingga cocok dijadikan bibit bunga lagi pun tersedia disini.

Setelah bertanya-tanya. Dimana?dimana? bibit bunga matahari (versi lagu ayu ting-ting)

Akhirnya kami menemukannya dikios bunga nini.

Harga awal bunga matahari Rp.10.000/satu bunga. Bibitnya Rp.5000/onggokkan.
Karena uang didompet hanya Rp.12.000 dengan sedikit gombalan aku menawar. Hingga akhirnya aku dapat 2 bunga dengan 1 onggokan bibitnya yang seperti kuaci favourite nya hamtaro.

Dengan wajah sumringah aku pulang kekosan membawa bunga. Lalu menanamnya dihalaman kosan. Berharap bunga yang ku tanam tumbuh subur dan keindahannya mampu menyemangatiku ditiap hari saat membuka pintu kosan ketika akan mulai beraktifitas.

Seperti kata film secret garden “cinta itu ibarat berkebun. Dia akan subur jika disiram dengan kehangatan hati seperti matahari dan curahan ketulusan kasih sayang seperti air” berhubung aku tidak lagi memelihara cinta. Maka bunganya dulu aja kali ya. Berlatih menanam untuk telaten menjaga.

Karena begitu lah cinta. “bisa datang tapi belum tentu mampu terpelihara lama”.

Winda monika
Bandung, 3 oktober 2011

Selasa, 04 Oktober 2011


“jika sudah tiada, baru terasa...bahwa kehadirannya sungguh berharga”
___(rhoma irama)__


Pernah kah kamu kehilangan seseorang yang kamu cintai untuk selama-lamanya? Bagaimana rasanya?? Bagiku perih, suram, mencekam, rasa duka bercampur menggelapkan dunia. Seakan-akan dunia tak mau lagi aku bersamanya.

Orang yang seumur hidupnya dihabiskan bersama kamu baik dalam suka maupun duka. Tempat berbagi untuk segala rasa. Orang yang lebih memperhatikan kamu dibandingkan sahabat atau orang tua. Bahkan selalu mengalah demi membuat kamu bahagia. Dia tak pernah menyakitimu. Saat kamu bahagia dan hampir melupakannya, dia goda kamu dengan segala riang candanya. Saat kamu menangis dan kecewa, dia ada untuk mengusap air mata bercerita hal konyol hingga membuat semangatmu menggelegar seperti semula. Orang yang selalu mengusili mu, membuatmu kesal karena manjanya dia. Orang yang selalu ingin kamu lindungi dari kenakalan teman-temannya. Bukan karena dia lemah? Tapi dia tak suka perkelahian. Dia lebih memilih mengalah dan diam.

Hingga pada suatu hari, kamu mendapat kabar bahwa dia mendapatkan kecelakaan. Sungguh, mendengarnya saja sudah membuat nafas begitu sesak. Itulah yang kualami. Hari itu seperti halilintar mengurungku. Mengejar bahkan menembakkan petirnya tepat dijantung hati.


disore gulita, aku dijemput oleh sepupu dan tetangga. Mereka memberi kabar bahwa aku harus segera pulang kampung karena adikku kecelakan. Adikku sayang sekarang tengah terbaring koma dirumah sakit.

Aku terdiam dan  Mendadak histeris. Berulang kali ku hubungi rumah. Papa mengatakan, adikku koma. Terluka sangat parah. Papa minta aku pulang. Pulang melihat adikku.


Tak ada yang mampu kukatakan. Hanya qur’an dan doa yang tak hentinya kupanjatkan agar tuhan menyelamatkannya. Agar dia tidak kesakitan dan segera sembuh seperti semula.

Sesampainya dibandara. Sejenak, jantungku melemah. Wajah gusar dengan mata memerah, pamanku menghampiriku. “ikhlaskan ya sayang..adik kita sudah bersama Allah....

Tuhannnn...? Apa ini? apa yang sedang terjadi? Mendadak jiwaku kosong. Aku seperti antara ada dan tiada. seluruh anggota tubuh melemas. Rangka tubuh serasa tercerai-berai dan kembali ku histeris tak percaya dan tak terima.

Semua saudara yang menjemputku dibandara menasehatkan agar aku ikhlas dan tegar. Tegar demi mama yang terkulai tak berdaya. Mama....

mama...?? Nafasku kembali sesak, aku histeris sejadi-jadinya.
Dunia ini serasa gelap gulita ketika melihat papan nama “turut berduka cita”. Kamu sudah tiada dek...kamu sudah tiada...

Aku hanya melihat badanmu terbujur kaku. Tanpa nyawa...

..to be continued
----------------------------------------------------------------------------------------------

Minggu, 21 Agustus 2011

"love or to be loved", "be queen or maid?"


seperti apa seorang wanita tergantung bagaimana perlakuan orang yang dicintainya. Apakah dia akan seperti pelayan ataupun tuan putri__secret garden__

Kutipan dialog young seyoun ini membuat saya terus memikirkan maksud didalamnya.

Pikiran saya tertuju pada perjalanan hidup 2 wanita yang sangat dekat dengan saya. Sebut saja namanya ani dan ana. Ani seorang wanita yang baik, pendidikan hanya sederajat SMA namun memiliki bisnis yang cukup besar. Dengan omset ratusan juta rupiah. Ana, sang adik adalah seorang guru sekolah menengah. dia sarjana dari universitas negri yang ada dikota ini. meskipun mereka saudara sedarah dan dibesarkan dari keluarga pengusaha, namun cara dagang yang mereka jalani sangat berbeda. Kehidupan yang mereka alami pun tak sama...

Ani yang lulusan SMA memiliki seorang suami yang lulusan sekolah dasar. Suaminya tergolong kasar, pemarah dan serba ingin dilayani. Saat jadwal makan, semua peralatan makan harus sudah tersedia didepan mata. Seperti nasi yang sudah dituangkan kepiring, sendok diletakkan disamping piring, gelas yang sudah diisi air serta air kobokan tangan juga harus sudah terletak didepan matanya. Bahkan pernah pada suatu hari, ani lupa meletakkan sendok didekat piring, sang suami berteriak dengan sangat kencangnya “sendok..!! sendok..!!”. padahal rak sendok memang sudah diletakkan dimeja makan, ani hanya sedikit terlupa meletakkannya disamping piring. (ckckkckckk)

Tak hanya itu, ani harus menyiapkan seisi rumah dengan serapih mungkin. Segala sesuatu baik itu pakaian sang suami harus telah digosok serapi mungkin dan diletakkan dalam lemari dengan barisan seperti jejeran baju dimall (saking rapihnya..0.0). makanan harus dimasak sendiri oleh ani, sebab dia beranggapan makanan diluaran tidak enak. dia tidak perduli apakah ani sedang sibuk ataupun sedang sakit. Yang dia tahu hanya ingin selalu diperlakuan bak raja.

Dalam nafkah, Anilah yang menjalankan bisnis. Ani berbisnis properti jasa angkutan barang. Bisnisnya tergolong sukses dengan penghasilan ratusan juta perbulan. Tapi dia juga terjerat hutang yang cukup besar. Sebab bisnis angkutan jasanya membutuhkan mobil besar untuk oprasional. Awalnya dia hanya memiliki 2 mobil besar, tapi kini sudah punya hampir 11 mobil. Sang suami dipercaya mengurus registrasi pembelian mobil. Tetapi sang suami hanya bisa membeli bahkan terus membeli mobil tanpa berfikir berapa besar tanggungan kredit yang harus dibayar perbulannya. Alhasil, hutang yang dimiliki ani hampir ratusan juta pula perbulannya.

Hidup ani penuh dengan hiruk pikuk. Disamping harus menghandle rumah juga harus menjadi pencari uang. Dia harus mencari uang dengan sangat kerasnya agar hutang2 perbulan yang dia miliki dapat terlunasi. Jika oprasional tersendat, dia juga sangat pusing dan panik harus kerumah2  meminjam uang ke semua pengusaha yang dia kenal di kota itu sampai dapat. meski terlihat berjuang keras, Dia tetap menjalani keseluruhan rutinitas hidup dengan bahagia.

Adik ani yaitu ana adalah seorang guru. Dia juga memiliki hasrat dalam bisnis. Hanya saja dia tidak terlalu sanggup akan tekanan. Dia mempercayakan suaminya bekerja sebagai wiraswasta peralatan rumah tangga kecil-kecilan.

Ana tidak terlalu rajin. Dia tidak mampu memasak dengan baik, tapi sangat suka menyapu rumah. Suaminya juga lulusan sarjana. Dulunya sebelum menikah mereka bertemu di kampus. Hidup ana kebalikan 3600 dari hidup ani. Suami ana pekerja keras, ulet dan disiplin. Dia juga memperlakukan ana dengan sangat baik. Dia tidak pernah sekalipun protes bahkan menghardik ana apapun yang dilakukannya seperti halnya memasak. Dia akan tetap lahap memakan masakan ana meskipun serba kurang bumbu disana sini. Bahkan dia selalu mencuci piringnya sendiri dan membuat teh untuk dirinya jika ana terlupa membuatkannya. (subhanallah...^_^)


Pada suatu hari ana sakit. Sakitnya cukup parah lebih kurang 7 bulan lamanya. Untungnya, sang suami sangat baik hati merawat ana dengan penuh kasih. bahkan harus menghandle bisnis dan rumah tanpa pernah mengeluh sedetik pun. Mereka hidup berbahagia satu sama lain. Ana benar2 diperlakukan bak ratu.


"be queen or maid??"






        


                                                                       OR 






??





Dari cerita tentang 2 wanita tersebut dapat kita lihat bagaimana perlakuan orang yang dicintai mempengaruhi kehidupan seorang wanita. Pada dasarnya wanita merupakan makhluk Allah yang luar biasa. Wanita dimuliakan sebab dipercaya untuk melahirkan, menyusui, haid dan merawat buah hati sepenuh jiwa. Lantas mengapa wanita melemah dihadapan pria? Dalam luar biasanya seorang wanita, dia akan luluh dengan kasih sayang dari jiwa yang memiliki tulang rusuknya. Hati tulus seorang wanita akan membisikkan kata cinta dan kasih kepada pria (pasanganya) bahkan terkadang melebihi kecintaannya pada orang2 terdekat seperti orang tua, sahabat dll. Hal tersebut sangat naluriah.

sungguh, orang2 yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak yang maha pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (Q.S taha,20 : 96). 

bagaimanapun upaya wanita mengelak rasa, dia tetap butuh pria sebagai imam dihidupnya untuk menjalankan perintah allah agar dapat berkembangbiak dimuka bumi Allah.


"(Allah) pencipta langit dan bumi. dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan. dijadikanNya kamu berkembangbiak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang maha mendengar, maha melihat".



Wanita akan diperlakukan seperti ratu ketika orang yang dicintainya memperlakukannya dengan sangat baik. Sebaliknya, wanita akan seperti pelayan jika pria yang dicintainya memperlakukannya buruk. Wanita pasti bahagia ketika diperlakukan bak ratu, tapi Apakah wanita juga bahagia ketika menjadi pelayan? Melihat cerita diatas tentang ani yang melayani suami bak raja, dia sama sekali tidak tersakiti atas hal itu. atas nama cinta dia menerima takdir apapun yang diberikan yang maha kuasa agar terus bersama dengan pria yang dicinta. tidakkah bodoh sikap ani yang demikian itu? Mungkin jika kita fikir, kita akan berkesimpulan bahwa apa yang dilakukan ani itu bodoh. Sebab tetap mempertahankan hidup bersama suami yang memperlakukannya buruk bahkan tidak berguna dalam artian finansial. Tapi ani “cinta”, itulah “orang yang dicinta” maka dia terima apapun resikonya karena itulah takdir yang dia punya.

Atas nama cinta pula suami ana memperlakukannya bak ratu balqis. Pepatah mengatakan “cinta itu buta” saking butanya mampu menutup mata hati bahkan logika berfikir manusia. Kita semua pasti berharap adanya keseimbangan dalam hubungan cinta. Dimana tidak harus selalu menerima (take) tapi juga dapat saling memberi (give) sehingga terjalin  hubungan yang sehat, seimbang dan adil antara wanita dan pria.


Sayangnya, menjadi ratu ataupun pelayan tidak bisa kita pilih2. Sebab sudah tertulis di lauh mahfuz takdir tiap wanita itu seperti apa. Meskipun menjadi pelayan, wanita tak akan dipandang hina sebab allah menjanjikan surga bagi wanita yang berbakti seutuhnya pada sang suami. Sungguh besar makna cinta hingga Tanpa disadari cinta itu mengajari kita untuk lebih bersyukur dan berserah diri menerima orang yang dicintai apa adanya (menerima ciptaan Allah apa adanya). ^___^

dan orang-orang yang berkata, “ya tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang2 yang bertakwa”. Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (surga) atas kesabaran mereka, dan disana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam”. (Q.S. Al furqon, 25:74-75).   

Selasa, 19 Juli 2011

hai pria surga

Hai pria surga..
Fasih lidahmu dengan ucapan shahih
Elok tindakmu dengan tuntunan tasbih
Paras rupawanmu bak pangeran jagat
Halus tuturmu meluluhkan gurat hati
Cerdas hatimu memimpin arah tindak duniwi

Hai pria surga..
Kharismamu memancarkan keteduhan
Santun akhlakmu primadona mata
Elok budimu pancarkan sejuta rona
Lemah lembut sikapmu lantunan ibadah
kecintaanmu menuntunku menuju surgaNya

Hai pria surga..
Dengan seluruh kesempurnaan jiwa
Kau buat dunia berbalik arah
Kau tuntun setiap inci wilayah dengan lafaz azawajala

Hai pria surga..
Betapa indah ciptaan tuhan terlukis indah didirimu
Kesempurnaan mu meniti hati untuk arah akhiratku
Tak kau bayangkankah keluh hati ini untuk menjadi makmum mu?

Hai pria surga..
Tak kuasa hati berucap simpul..
Ketika hati telah halal
Kutau surga akan menyambutmu
Sungguh jika menduakan hati kelain bidadari, aku tak mampu berlabuh

puisi ini terinspirasi dari suatu kejadian ketika main ke tk adikku ibaw tadi siang. seperti biasa saat pukul 12.00 teng saya mengantarkan makan siang ke TK ibaw yang sangat islami. 
sembari menunggu, saya duduk dibangku depan kelas bersama ibu2 yang kebetulan juga menunggu untuk mengantarkan anaknya makan siang. seketika ada seorang guru ikhwan lewat didepan kami. semua mata memandangi takjub. dibalik kekagumanku padanya (secara fisik rupawan, hartawan, akhlak baik +++deelel..) eh, didongengi sama siibu yang disamping.
si ibu bilang "sibapak keren kan?" sambil senyum. 
dengan nada kaget, saya jawab "eh, iya bu"..
"hhmm..istrinya 3 lho" siibu nyengir cenggengesan. 
saya cuma bergumam didalam hati "gubrak !! (sambil melankolis dan berfikir, hingga terciptalah puisi ini...sungguh tak sanggup hati jika nantinya suami unyuuuu2ku membagi hati *ga ga gakuaaaaattttt....
ahahhahahaha...

dear diary ini cerita lebay ku. apa ceritamu?? ^_^ 


itu sepenggal kisah klasik yang sering kita jumpai dalam masyarakat saat ini. berhubung akhir2 ini saya sering gabung dengan ibu-ibu jadi sedikit terjerumus untuk memikirkan hal-hal aneh tentang privasi masa depan. dalam hal ini tentang "rumah tangga".


semua manusia baik itu berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan pasti selalu mendambakan rumah tangga sakinah, mawadah, warrahmah. bagi wanita, iya ingin hidup bahagia dengan suami yang dicinta lalu melahirkan anak-anak yang lucu, sehat, dengan harapan kelak menjadi anak yang saleh dan berbakti pada orang tua,agama, bangsa, dan negara. begitupun pria, dia juga mendambakan hidup berbahagia dengan istri terkasih, menjaga, melindungi keluarga dan menjadi imam terbaik yang dapat membimbing keluarganya menuju kebahagiaan dunia, berharap juga berkumpul kembali disurga.


keduanya mendambakan "kebahagiaan". tapi bagaimana jika sang suami memasukkan bidadari lain lagi kedalam bahtera kasih itu. apakah kebahagiaan itu masih utuh? apakah benar kebahagiaan itu juga membahagiakan sang istri?mampukan sang suami berlaku adil? bukan hanya sekedar berbagi dengan ukuran cinta, perhatian dan kasih yang sama? melainkan mampu memberikan sesuai dengan porsi antara istri muda dan istri tua. perkara ini sungguh memusingkan. karena porsi itu relatif adanya. adil bagi istri pertama belum tentu adil bagi istri kedua, begitupun sebaliknya.

poligami memang dihalalkan oleh agama. tentunya dengan syarat2 tertentu. seperti menikahi wanita janda miskin dengan niatan menolong dsbg. bahkan nabi memiliki 8 istri yang dinikahinya karena mereka semua janda miskin. beberapa dari mereka merupakan janda korban perang.


sebenarnya poligami sah2 saja jika dilakukan dengan benar seseuai ketentuan agama dan syariatnya...


mungkin hati ku saja yang terlalu dangkal dan pemikiranku sempit perihal kebahagiaan ini. bagiku, jika itu berawal dari hati, aku akan menjalankannya dengan hati...


bahkan aisyah dan hafshah sebagai istri2 rasul saja masih memiliki kecemburuan terhadap rasullullah. pertanda, sebesar apapun keikhlasan itu ada, namun ketika bermain dengan separuh hati, terkadang dia akan terkikis perih juga..
^___^

Minggu, 17 Juli 2011

rona kamuflase

langit biru tersipu
ketika pelangi dengan malu menyapa
didalam perhentian
gadis lugu bertutur syahdu
tuntutan pada sang takdir

langit biru merona merekah
tapi pelangi enggan menari lincah
hati itu terkurung rapat
diperhentian  jalan tertegun bisu
meratap ceria dengan rona merah jambu yang memudar

langit biru seketika meneteskan embun
bongkahan batu dalam kalbu terkikis
sejuta ratapan telah tertuang
kesamudera doa yang luas membentang
sejenak, tujuan surga kebahagiaan berkumandang

by winda monika

Sabtu, 02 Juli 2011

"ketenangan"

apa itu ketenangan ?
mengapa di dunia ini selalu penuh dengan keributan
aku ingin mengubahnya
mengubah dunia menjadi damai

apakah mungkin?
setelah begitu banyak peperangan
peperangan yang menghancurkan
dan merenggut banyak nyawa

yang mungkin nyawa-nyawa tak berdosa
aku ingin damai, tenang dan damai
tidak ada lagi perpecahan, perselisihan
aku ingin kita bersatu didunia
di dunia yang tenang dan damai

karya terindah Katon Bastian Wibowo.


Kamis, 30 Juni 2011

bebas???

Bebas?


Suatu kata sederhana yang biasa dikumandangkan oleh manusia yang merasa dijajah. atau dilontarkan oleh manusia yang sedang berada dalam kekangan. Aku sering mendengar kata-kata itu dikumandangkan dengan lantang. Aku mendengar dari rekan yang didepan mata hingga rekan yang kulihat dari kaca jendela media.


Apakah itu bebas?


Om  Wikipedia berkata bahwa bebas adalah: lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dsb sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb dng leluasa), lepas dr (kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dsb)tidak dikenakan (pajak, hukuman, dsb)tidak terikat atau terbatas oleh aturan dsb. merdeka (tidak dijajah, diperintah, atau tidak dipengaruhi oleh negara lain atau kekuasaan asing). tidak terdapat (didapati) lagi” de el el.....

bebas” yang ku tahu adalah segala sesuatu tindakan bertanggung jawab dan tidak merugikan orang lain, dilakukan leluasa tanpa adanya kurungan dan kekangan dari pihak manapun. 


Teriakan kebebasan itu makin nyaring terdengar. Kuintip suara sumbang itu, kudapati :


Ketika rekan sebayaku berteriak bebas. yang kutangkap hanya perbuatan semaunya tanpa mengindahkan peraturan norma dan etika? Suara kebebasan itu menggelegar seakan akan sebagai jeritan hati memperlihatkan tingkat kedewasaan sehingga merasa tidak boleh adanya aturan melarang apapun tindak tanduk yang dilakukannya. Ketika sebayaku tanpa malu berpegangan tangan, berpelukan, rangkulan, tidur sekamar, dengan kekasih hati yang belum terikat resmi. Dengan santainya membiarkan pandangan umum melihat semua itu atas alibi teriakan kata “bebas” menikmati usia muda.


Ketika rekan sebaya ku berteriak “bebas”. Kebebasan itu dikumandangkan ditengah jalan. Tanpa mengkaji terlebih dahulu apa yang diteriakkannya dan apa yang dibelanya? Hanya karena beberapa lembar rupiah dari pihak yang berkepentingan didalamnya dia memprovokasi keadaan dan kembali meneriakkan “bebas” menikmati pesta pora demokrasi negri.


Ketika pemimpin ku berteriak “bebas”. Kebebasan itu diekspose kemuka umum dengan liputan media, tapi dibalik meja mereka mengganti kebebasan itu dengan lembaran-lembaran rupiah. Mereka mengganti kebebasan yang dipunya rakyat miskin dan jelata dengan mengorbankan teriakan “bebas” versi tikus-tikus bergigi kecil.


Suara sumbang itu membuat ku prihatin. Sudah benarkah makna “bebas” itu? kembali kumendengar nada-nada sumbang bertebaran:


Ketika saudara senegriku berteriak “bebas”. Kumelihat beribu orang yang tidur berselempangan dibawah jembatan dijalan-jalan kota arabia. Saudaraku yang menunggu hukuman mati atas tindakan yang belum tentu penyebabnya karena kebusukan hati hingga bertindak melukai majikannya sendiri. Saudaraku yang dilecehkan, dipukuli, dihina bahkan dianiaya tanpa prikemanusiaan berjuang demi sesuap nasi meneteskan peluh dinegri orang, dimana awal keberangkatan tidak terlalu berfikir panjang. kenapa? karena percaya, bahwa “negrinya” akan menjaga "bebas” nya mereka bekerja, sebagai jaminan dimana telah memberikan devisa hingga dianggap pahlawan berjasa.


Ketika saudaraku ditengah negri meneriakkan kata “bebas” karena telah lulus mendapatkan ijazah, menikmati bangku sekolah dengan ujian celingukan melihat kunci jawaban yang bertebaran dimana-mana, saudaraku disudutan negri berteriak “bebas” dari yang namanya pendidikan. tanpa perlu melihat contekan karena tak kenal satu huruf dan angkapun tuk dapat dibaca.


Rekan-rekan, sudah benarkah makna "bebas" itu? menurutku belum.


Ironisnya keseluruhan jeritan “bebas” itu dimulai sejak sangat dini. Dimulai dari generasi muda yang gembar-gembor meyemarakkan kata-kata “bebas”. bayangkan, jika mayoritas generasi muda berusia dini memaknai sebuah kebebasan dengan perbuatan asusila dan tanpa mengenal landasan hukum agama. 


Menjadikan tidak hanya “hati” mereka yang tidak “bebas” tapi juga pemikiran mereka. Kebebasan yang mereka rasakan hampa tanpa ada landasan norma dan etika didalamnya sehingga saat mereka diusia senja (produktif), sikap seenaknya itu akan terus berlanjut bahkan menganggap aplikasi "bebas" yang bernilai negatif sebagai tindakan yang  wajar2 saja. hingga timbullah gejala KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme), kejahatan, anti-pati dll. 
Mengapa? Sebab mereka sudah terbiasa dengan budaya tidak estetika. Mereka melakukan segala sesuatunya semau mereka tanpa perduli kata “benar-salah” atas nama “bebas” yang mereka anut sedari dulu. sehingga berdampak luas kesektor yang lain. 


apakah makna bebas mu seperti itu?
selagi muda, ayoo kita renungi lagi...
kesempatan itu masih ada. sebelum mata tertutup saat panggilan ajal. rubahlah....


alangkah indahnya makna "bebas" yang kita punya sama.sehingga dapat tercerminkan dalam tingkah laku yang baik dan benar. saling bahu membahu mengingatkan dalam kebenaran. karena sesungguhnya semua kita pasti menginginkan “bebas” untuk hidup didunia yang aman, damai, dan sentosa. Serta “bebas” memilih surga mana yang akan dimasuki diakhirat nantinya. bukan..???


*semoga bermanfaat
^_^